Chinese Proverb
Show me and I remember
Involved me and I understand
Waktu TK:Ga ingat
Waktu SD:Pengen jadi orang baik. Cuma itu yang kuingat dan memang ga detail. Pokoknya pengen jadi orang baik aja
Waktu SMP:Pernah pengen jadi sopir angkot (serius loh, he..he.., maklum masa-masa puber)
Waktu SMA:Disuruh ortu masuk STPDN ga mau, akhirnya disuruh jadi dokter. Aq mikir, enaknya dokter apa ya? Dokter anak aja deh, aq senang dengan anak-anak kecil. Tapi aq kan suka trial & error, bisa-bisa meninggal tuh anak orang. Akhirnya aq milih Ilmu Komputer atau Teknik Informatika karena cuma berhadapan dengan benda mati (ga takut trial & error lagi), lagipula bidang ini kan ga nimbulin polusi (padahal kalo dipikir-pikir lagi komputer kan pake listrik yang dibangkitkan menggunakan BBM :P).
Waktu Kuliah:Pernah pengen jadi penulis. Sampai sekarang sih masih pengen. Ini mulai dilatih. Soalnya enak sih. Tahu banyak (kan harus nyari bahan tulisan). Pemikiran kita dipublikasikan ke orang lain. Mudah2an dapat pahala kalo bermanfaat dan ikhlas. Trus dapat royalti lagi. Pokoknya asyik deh. Trus manfaat lainnya masih banyak lagi, seperti menstrukturkan pikiran, dll.
Trus pengen jadi pemimpin. Eit, bukan sembarang pemimpin nih. Aq jelasin ya. Pemimpin di sini belum tentu Ketua, Direktur, Kepala, atau apalah namanya. Aq lebih suka bekerja di balik layar. Mungkin istilahnya pemimpin informal. Kalau dalam suatu perusahaan ada seorang direktur, maka sang direktur itu cuma jabatan, belum tentu pemimpinnya. Misalnya Direktur memerintahkan sesuatu pada semua karyawannya. Ternyata belum ada respon. Hingga salah seorang karyawannya, misalnya Si A, mengajak teman-temannya karyawan yang lain, barulah perintah direktur dilaksanakan. Sang direktur adalah pemimpin formal, sedangkan si A adalah pemimpin informal. Gitu ceritanya.
Pengen jadi pebisnis juga. Yup, menjadi pebisnis adalah salah satu jalanku mencari teman-teman baru yang banyak dalam suatu kegiatan yang bermanfaat. Bagiku bisnisnya penting, tapi menemukan teman-teman yang baik lebih penting. Just wait & see.
Sekarang:Aq ingin jadi orang biasa yang berbuat luar biasa ;)
Tolong doakan ya!
Henry Ford pernah ditanya oleh seorang karyawan muda yang ambisius, "Bagaimana Saya dapat membuat hidup Saya berhasil?".
Jawaban Tuan Ford sederhana saja, "Bila Anda memulai sesuatu, selesaikanlah."
Kita harus berpegang teguh pada tujuan. Jika Kita berusaha sekuat tenaga, akhirnya Kita akan berhasil, insyaAllah.
* Tidak peduli berapa kali Anda mengalami kegagalan. Yang penting berapa kali Anda bangkit dari kegagalan. (Abraham Lincoln)
* Never Give Up! (Fajri Hiza :P)
* Ga usah mikirin apa yang bisa kita dapat deh, capeek. Lakukan saja apa yang bisa kita perbuat (klo ga salah Aa Gym)
Ternyata dulu di Romawi (atau Yunani kali ya, lupa euy :P), ada seorang pemuda yang bernama Narcisus. Ia memiliki wajah yang sangat tampan. Semua wanita pada zaman itu sangat mengagumi ketampanannya. Bahkan sebagian pria pun ikut menyukainya (hiiiyyyy, syerem).
Setiap hari, Narcisus selalu menyempatkan waktu untuk duduk di tepi sebuah kolam. Di sana, ia tak henti-hentinya mengagumi bayangan wajahnya sendiri di kolam.
Entah bagaimana caranya, narsis sekarang menjadi sebuah kata.
Jum'at, jam 4 sore kurang dikit. Aq pulang ke kosan. Baru mau masuk kamar, tiba-tiba Pak Usep, pemilik kosan yang kutempati, menghampiriku.
"Ji!". Sebenarnya Pak Usep memanggilku dengan nama Pajri (pake EP-nya Sunda he..he.. :P). Tapi kalo disingkat jadi Ji. Ga tau darimana datangnya panggilan tersebut. Aq sih ok2 aja.
"Ji, kamar Ian dibobol. Kamar yang lain juga dibobol. Tapi anehnya teh ga ada yang ilang. Coba deh lihat ke atas Ji"
Kos-kosan kami terdiri dari 2 lantai. Kamar-kamarnya tidak ada yang sama dan dibangun secara nyicil, satu-satu maksudnya. Kalau kuperhatikan, dulu ruangan yang sekarang sudah jadi kamar kos ini adalah bekas ruang Tamu. Kelihatan banget dari tata letak pintu dan langit-langitnya. Pak Usep sendiri tinggal di bagian lain rumah itu bersama keluarganya. Bagian rumah yang jadi kosan memakai bekas pintu ruang tamu dan bagian yang satu lagi menjadikan garasi sebagai pintu utama. Rumah itu sangat luas.
Kamarku di lantai 1 bersama 4 orang teman kos yang lain di kamar kosnya masing-masing. Satu kamar yang paling luas di lantai ini masih kosong. Sedangkan di lantai 2 terdapat 4 kamar. Semuanya terisi. Salah satunya kamar Ian yang kebobolan dan kecurian.
Hari itu memang sepi sekali di bagian rumah yang jadi kosan. Semua anak-anak ke kampus kecuali salah seorang yang masih belum masuk kuliah, masih bimbel. Sedangkan di bagian lain justru rame sekali. Ada adek kecil yang baru datang pagi tadi jam 9. Anak Pak Usep melahirkan kemarin. Jam 9 tadi pagi baru pulang dari rumah bersalin. Tetangga banyak yang berkunjung lewat pintu garasi.
Dua kamar pertama di dekat tangga bobol. Isi kamarnya rapi. Tampaknya memang tak ada yang hilang. Cuma ada monitor komputer plus tv turner external di kamar itu. Monitor bekas itu paling sekitar 200ribuan dan tv turner eksternal 100ribuan. Wah, kayaknya malingnya tahu mana barang yang mahal. Hal itu akan terlihat nanti. Baca terus ya :P
Kamar ketiga bersih. Ga dibobol sama sekali. Ya wajarlah. Meskipun dengan kunci asli, kamar ketiga ini harus dibuka sepenuh hati dan lama. Kuncinya udah dol (rusak tapi masih bisa dipakai).
Di kamar ketiga, kamar Iyan, baru ada yang hilang. Sebuah unit CPU. Harganya mungkin 2 jutaan. Kunci kamarnya ga rusak. "Jangan-jangan Ian lupa ngunci kamar Ji. Soalnya kuncinya ga rusak sama sekali."
Waktu berlalu. Semua anak-anak udah pulang, termasuk Iyan, sang korban pembobolan. Akhirnya Iyan memutuskan untuk melapor ke Polisi. Kupinjam motor lalu kutemani Iyan ke polsek coblong, sebelah kantor kecamatan.
Jam setengah enam, sebentar lagi waktu buka. Polisi yang piket sedang menulis laporan. Saat buka tiba, si Bapak masih saja asyik mengetik laporan di komputer. Akhirnya polisi dari ruang utama, tempat polisi-polisi lain berkumpul, masuk mengajak kami berbuka. Kami mengiyakan. Aq dan Iyan senyam-senyum aja. Soalnya pengalaman pertama buka di kantor polisi. Dapat ta'jil gratis. Es shanghai dan gorengan he..he..
Setelah berbuka dan sholat, pembuatan laporan pencurian dilanjutkan. Lalu kami pulang.
(
*Hati-hati, sebelum mudik aja udah kemalingan. Apalagi saat mudik, lebih berbahaya. Waspadalah..waspadalah..
* Akhir ceritanya pendek banget (yang di kantor polisi), padahal dibenakku masih penuh nih. Lagi malas buat cerpen. Jadi penulis blog aja dulu.
* Kalo kecurian sebaiknya lapor polisi. Gratis, polisi-polisi-nya ramah-ramah & baik banget kecuali kalo bertemu oknum
)
Kala itu mobil-mobilan tamiya sedang ngetrend di kalangan anak-anak. Distributor mobil-mobilan tersebut tidak mau kehilangan momen baik tersebut. Untuk makin mempromosikan produk jualannya, mereka mengadakan lomba balap mobil tamiya. Pesertanya gratis, tidak dipungut bayaran apapun. Sedangkan hadiahnya hanya untuk juara satu, yakni sebesar 200 ribu. Kontan saja lomba itu disambut baik oleh anak-anak. Setiap anak-anak yang ikut serta mempersiapkan mobil tamiya mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka meng-upgrade mobil-mobil tamiya mereka agar dapat berjalan lebih kencang.
Diantara anak-anak peserta tersebut, Kulihat ada satu anak yang tidak meng-upgrade mobil tamiya-nya sama sekali. Pakaiannya sederhana. Tampaknya ia memang tidak punya uang lagi untuk meng-upgrade mobil tamiya-nya. Punya mobil tamiya aja sudah syukur. Demikianlah keadaan anak tersebut. Melihat kondisi mobil tamiya-nya sepertinya sangat tidak mungkin mobil anak itu bisa menang.
Sebelum berlomba, semua anak-anak peserta berdoa. Kulihat anak itu juga berdoa. Ia berdoa khusyuk sekali. Semua peserta juga melihat betapa khusyuknya anak itu berdoa.
Perlombaan sudah dimulai. Semua mobil melaju kencang, termasuk mobil anak yang berpakaian sederhana yang kuperhatikan dari tadi. Namun tentu saja jalan mobil anak tersebut kalah kencang dari mobil-mobil yang lain.
Medan trek lomba sangat sulit. Ada tanjakan melingkar seperti lintasan roller coaster. Tikungan-tikungannya sangat tajam.
Satu-persatu mobil-mobil tamiya keluar dari trek dan didiskualifikasi. Hingga akhirnya tinggal satu mobil yang tersisa, yakni mobil anak berpakaian sederhana tadi. Ya, mobilnya keluar sebagai pemenang. Terlihat dari ekspresinya anak itu sangat gembira.
Setelah penyerahan hadiah, panitia menanyakan kepada anak tersebut tentang doa apa yang dimintanya kepada Allah SWT hingga ia bisa menang. Anak itu berkata, "Saya meminta kepada Allah agar Saya tidak kecewa bila tidak berhasil memenangkan perlombaan ini".
(Sudah siapkah kita bila kenyataan belum sesuai harapan?)